PASPORT
Industri

Indonesia Sports Summit 2026: Olahraga Diposisikan sebagai Investasi, Bukan Biaya

Forum yang mempertemukan pemerintah, federasi, dan pelaku usaha menegaskan arah baru: belanja olahraga dihitung sebagai investasi yang menggerakkan ekonomi.

LW
Larasati Wibisono
Jurnalis industri olahraga Sel, 15 Sep 2026 · 16.40 WIB 6 menit baca 36,9 rb dibaca
Sesi panel industri olahraga. Foto ilustrasi.
Sesi panel industri olahraga. Foto ilustrasi.

Indonesia Sports Summit 2026 menempatkan satu gagasan di pusat pembahasan: olahraga adalah investasi, bukan biaya. Arahan Menteri Pemuda dan Olahraga itu mendorong kementerian bergeser dari penyerap anggaran menjadi penggerak investasi di sektor olahraga.

Kontribusi olahraga terhadap produk domestik bruto saat ini diperkirakan sekitar 0,5 persen. Para pembicara menilai angka tersebut masih jauh dari potensi, mengingat besarnya basis penggemar, jumlah event partisipatif yang terus bertambah, dan tumbuhnya industri apparel lokal.

Tiga pekerjaan rumah

Diskusi mengerucut pada tiga hal: pengelolaan aset olahraga yang lebih produktif, pelibatan swasta dalam event partisipatif, dan penguatan spectator sports agar laga domestik layak ditonton dan layak disponsori.

Data sebagai prasyarat

Sejumlah peserta menyoroti pentingnya data yang dapat diverifikasi. Tanpa data jumlah atlet, klub, dan transaksi yang andal, investor sulit menilai skala pasar. Platform identitas atlet dan kalender event nasional disebut sebagai fondasi yang perlu dibangun lebih dulu.

Sponsor tidak membeli logo di papan iklan. Mereka membeli penonton yang bisa dihitung.
Hendrawan Siregar, konsultan pemasaran olahraga
Apakah artikel ini bermanfaat?
Masukan membantu redaksi menyusun berita untuk kamu.

Artikel terkait

Diterbitkan 6 jam lalu · Redaksi PASPORT